“ketika kau berbuat baik pada orang lain, sesungguhnya kau sedang berbuat baik pada dirimu sendiri..”
Saya
wajib bersyukur karena saya diciptakan sebagai manusia. Sebagai makhluk
bernama manusia, saya mempunyai kesempatan untuk menjadi penghuni surga
dan bertemu dengan Yang Maha Pencipta. Makhluk-makhluk lain mungkin
tidak punya kesempatan itu, tetapi saya punya. Syaratnya adalah
bersyukur dan berbuat amal kebajikan sesuai dengan kehendak-Nya. (hal.
79)
Apakah kita ingin mati tanpa bekas seperti lilin dan
benda-benda lainnya? Apakah kita ingin mati untuk dilupakan, tanpa ada
yang mengambil manfaat dan kesan dari kehidupan yang kita jalani. Bila
seperti sebuah ketaksengajaan, hidup tak sengaja ada dan mati tidak ada
yang merasa kehilangan. Mengapa? Semua itu karena kehidupan kita tidak
punya hati. Tidak menggunakan dan menghadirkan hati. (hal. 193)
Bila
kita telah mengambil peran itu, yakinkan dalam diri bahwa kita telah
mengambil tugas paling mulia dari Sang Pencipta. Menjadi khalifah, wakil
terbaik-Nya di muka bumi. (hal. 239)
Jelas sekali pesan yang
ingin disampaikan dalam buku ini yaitu supaya kita senantiasa berbagi
dengan sesama. Dan hidup yang kita jalani setidaknya bisa bermanfaat
bagi orang lain. Apakah susah untuk berbuat baik pada orang lain? Memang
tidak susah tapi faktanya berbuat baik tidak mudah bagi sebagian orang.
Buku berupa kumpulan kisah penyejuk jiwa ini mengajak kita untuk
senantisa peduli kepada orang lain. Disusun langsung oleh orang dikenal
luar biasa dermawan, almarhum bapak Houtman Zainal Arifin.
Houtman
Z. Arifin adalah seorang petualang kehidupan. Seorang mantan Vice
President Citibank yang meniti karier dari strata kepegawaian terendah,
yaitu non-clerical. Memutuskan keluar dari bank tersebut di usia 37.
Aktif di berbagai kegiatan sosial, salah satunya dalam Dewan Pembina
Yayasan Dompet Dhuafa. Telah banyak mengasuh anak yatim, di akhir
hayatnya beliau meninggalkan 39 anak yang diasuh di rumah sendiri.
Buku
yang menginspirasi, membacanya mengajak kita untuk melihat bahwa hidup
ini adalah anugerah yang luar biasa. Berikut kata favorit dalam buku
ini:
1. Meskipun pendidikan berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya jalan untuk meraih keberhasilan (hal. 49)
2.
Jelajahilah dunia untuk dijadikan bahan pelajaran. Sebagaimana
orang-orang bijak dulu pernah berpesan, banyak berjalan banyak dilihat,
banyak pengalaman banyak pelajaran (hal. 50)
3. Melalui buku,
kita memperoleh ilmu pengetahuan yang membuat tingkat kecerdasan kita
meningkat. Dengan ilmu, saya mengerti hidup. Dengan ilmu, saya tidak
merasakan penderitaan akibat kondisi saya seperti ini. Dengan ilmu, saya
merasa tertuntun untuk mengenal Tuhan lebih dekat (hal. 78)
4.
Pekerjaan bukanlah semata-mata soal profesi, melainkan pengabdian. Jas
atau busana putih yang saya kenakan ini bukan sekedar atribut untuk
dijadikan alat gagah-gagahan (hal. 121)
5. Hidup selalu berubah.
Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Jadi
jangan pernah putus harapan (hal. 161)
6. Kita boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan (hal. 185)
7. Logika tinggal logika karena tidak selamanya logika identik dengan keimanan dan keyakinan (hal. 186)
8. Kita lahir karena ada seseorang yang berkorban tanpa menuntut dan memberitahukan kepada kita apa yang dialaminya (hal. 192)
9.
Bila ada seseorang menyatakan dirinya sukses, tetapi secara batin tak
bahagia, kita harus pertanyakan kesuksesannya (hal. 204)
10. Kenikmatan itu adalah “cukup”, bukan “lebih”, karena yang lebih itu akan memancing ketamakan (hal. 215)
11. Kita ini memang hidup di zaman aneh, di mana orang beraktivitas sosial selalu ditafsirkan negatif dan aneh (hal. 219)
12.
Keberuntungan itu ada bila kita mau mengambil peran kita sebagai hamba
yang tunduk pada aturan-Nya dan berada di belakang kesempatan atau
peluang munculnya kebajikan (hal. 236)
Judul : Berbagi Hati
Penulis : Houtman Z. Arifin
Penerbit : Nourabooks
Tebal : 240 hlm.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar